Ketua MUI Ingatkan Prinsip Islam Sikapi Anjing Dibunuh


Sebuah video penangkapan satu ekor anjing untuk dipindah dari Pulau Banyak, Aceh Singkil, sedang trending di sosial media. Penangkapan itu dinilai netizen, karena diperhitungkan dilaksanakan dengan tidak pas hingga mengakibatkan hewan itu mati.

Menyikapi peristiwa ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Sholahuddin Al-Aiyub menerangkan, tuntunan Islam tidak mengenali penganiayaan ke hewan, terhitung untuk hewan anjing.

Umat Muslim diberikan untuk menyayangi semua makhluk dan penganiayaan pada hewan apa saja ialah pelanggaran pada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.

"Islam mengajari supaya kita ini berperangai baik terhitung ke semua binatang. Innnallah kataba al-ihsana ala-ala kuli syai', sebenarnya Allah mengharuskan al-ihsan atau berperangai baik pada segala hal," terangnya ke Republika.co.id, Ahad (24/10).

Ia memberikan contoh dengan Islam menggunting hewan kurban yang mempunyai beragam rambu-rambu saat sebelum melakukannya. Seperti jangan menggunting dengan pisau pijakl yang hendak menyiksanya, sampai menunjukkan proses pemangkasan ke hewan sembelihan lain.

Kiai Sholahuddin menjelaskan berkaitan cerita seorang Muslim yang disarankan untuk memberikan air untuk satu ekor anjing yang kehausan, daripada digunakan untuk berwudhu. Beberapa contoh ini dikatakannya sebagai bukti jika Islam mengajari untuk berperangai baik ke hewan apa saja.

"Itu pertanda jika tuntunan islam benar-benar menyarankan untuk kita ar-rifqu bil hayawan, untuk berperangai halus ke hewan. Dalam kerangka itu, disebutkan walaupun dengan anjing. Ini ialah tuntunan Islam," ucapnya.

Walau kejadian ini sudah trending dan banyak yang mempersalahkan perlakuan pemerintahan di tempat, Kiai Sholahuddin mengharap supaya ada usaha tabayun atau verifikasi untuk menegaskan permasalahan ini. Ini penting supaya tidak muncul sangkaan-dugaan lain sampai mempersalahkan tuntunan Islam atas permasalahan ini.

"Penilaian pada informasi yang ada di sosial media itu tidak boleh ditanggapi demikian saja tanpa kita lakukan tabayun atau verifikasi. Apa benar, apa yang terjadi atau apa yang dikabarkan sesuai yang terjadi di atas lapangan?. Atau apa benar itu (penganiayaan) merupakan peraturan dari pemda sana," katanya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama