Menengok Jejak 10 November lewat Koleksi RRI & Panjebar

 Semangat RRI menyimpan & merawat sejumlah ornamen bersejarah yg terkait menggunakan Bung Tomo & Perang Surabaya. Lewat Panjebar Semangat dulu mereka yg nir mampu berbahasa Belanda & Indonesia mampu permanen mengikuti usaha melawan penjajah. WAHYU ZANUAR BUSTOMI-AZAMI RAMADHAN, Surabaya JawaPos.com – Poster akbar Bung Tomo & Bung Karno terpampang pada ruang Galeri Tri Prasetya, RRI Surabaya. Begitu juga beberapa tape recorder. Lengkap menggunakan tas kulitnya. Bukan hanya itu, indera pemindai rekaman pita jua masih terjaga.

 Dulu digunakan wartawan liputan. Termasuk aduk-aduk protesis Jerman. Koleksi pada Galeri Tri Prasetya memang nir poly. Jumlahnya lebih kurang belasan. Mulai indera penyiaran sampai indera musik. Rata-homogen usianya pada atas 60 tahun. Semua benda bersejarah itu terkait menggunakan galat satu insiden krusial pada sejarah Indonesia modern: perang 10 November pada Surabaya. Palagan tadi lalu diabadikan menjadi Hari Pahlawan. ”Bung Tomo itu jibila pidato nir hanya memakai bahasa Indonesia.

 Ada yg contohnya memakai bahasa Madura yg mungkin tidak poly diketahui publik,” istilah Music Director RRI Surabaya Pataka Swahara Sanja pada Jawa Pos. Bung Tomo memang sangat dikenal menggunakan pidato-pidatonya yg membakar. Dia dipercaya corong pembakar semangat para pejuang pada pertempuran Surabaya. Arkandi Sari menerangkan pesan Soekarno buat Panjebar Semangat. (Azami Ramadhan/Jawa Pos) Sebagian benda koleksi sejarah perang 10 November memang nir lagi masih ada pada RRI Surabaya.

 Sebagian dibawa ke RRI pusat, Jakarta. Salah satunya mikrofon pidato Bung Tomo. Juga indera pemancar berdasarkan RBPRI (Radio Barisan Pemberontak Republik Indonesia) yg didirikan Bung Tomo. Radio Bung Tomo mampu melakukan siaran udara sehabis menerima perangkat siaran berdasarkan RRI yg berdiri semenjak 11 September 1945. Mulai mikrofon, aduk-aduk, sampai satu pemancar AM. Pada 15 Oktober 1945, RBPRI mulai mengudara perdana. 

Waktu itu Bung Tomo minta diputarkan musik mars menjadi pembuka. Lantaran tidak mampu menyediakan pada ketika dekat, RRI Surabaya memberikan lagu Tiger Shark yg berirama Hawaian yg ditulis Peter Hodgkinson. Lagu itu digunakan menjadi pembuka & epilog siaran. ”Jadwal siarannya hanya Rabu & Minggu malam,” ucap Ata, sapaan akrab Pataka, pada Jawa Pos yg menemuinya, Senin (8/11). Ata menjelaskan, RRI tengah menyelamatkan file siaran. 

Termasuk mencari rekaman pidato Bung Tomo yg memakai bahasa daerah. Selain butuh ketika buat pencarian file, penyelamatan dokumen terkendala restorasi ke format digital. Sebab, dulu perekamannya memakai pita. Total terdapat lebih kurang 1.500 data file siaran RRI yg ketika ini diselamatkan menggunakan cara direstorasi ke format digital. Sebagian akbar berdasarkan ribuan data itu bersifat misteri negara. Selain file dokumen siaran, RRI Surabaya merestorasi ribuan rekaman musik yg dulu diputar buat disiarkan. Baik luar negeri juga lokal.

 Menurut Ata, terdapat 8 ribu file musik, baik berupa vinyl juga kaset. Tujuannya, menjaga karya musisi Indonesia. Salah satunya rekaman AKA Band yg lahir pada Kota Surabaya. Jawa Pos jua mengunjungi ruang redaksi Panjebar Semangat, media yg turut terlibat pada menggelorakan semangat usaha. Perwajahan majalah bahasa Jawa edisi pertama itu masih terpampang kentara pada ruang redaksi kantor. Terbungkus rapi pada pigura meski kertasnya telah keropos & berwarna usang. 

Pesan dr Soetomo, oleh pendiri Panjebar Semangat, begitu terasa pada ruang redaksi Jalan Gedung Nasional Nomor 2, Bubutan, Surabaya. Menjadikan media menjadi wahana buat mencerdaskan & mempersatukan bangsa. ”Semangat kang kita sebarake, jaikoe semangat kang bangoenake pencerahan kang mampu nglairake goemregahe bangsa kita, ngabdi marang kebenaran, toendoek marang kesoetjian sarta soemarah marang keadilan (Semangat yg kita sebarkan, yaitu semangat yg membangunkan pencerahan yg mampu membangkitkan bangsa kita, mengabdi pada kebenaran, tunduk terhadap kesucian, dan pasrah pada keadilan),
” ujar Arkandi Sari, pemimpin redaksi Panjebar Semangat, pada Jawa Pos

 Kamis (4/11) lalu. Andi, sapaan akrab Arkandi Sari, menceritakan, Panjebar Semangat diberedel Jepang dalam 1942. Padahal, ketika itu oplah sedang akbar -besarnya. Namun, lantaran satu & lain hal, Jepang melalui Osamu Seire (Undang-Undang Pemerintah) Nomor 16 melarang Panjebar Semangat terbit & menunda pemimpin redaksinya kala itu, Mr Soemanang. ”Justru kepedulian ketika itu akbar . Kami tidak kekurangan pelanggan, bahkan poly yg bersolidaritas,” kenangnya sambil mengajak Jawa Pos melihat majalah terbitan 1949, pertama sehabis diberedel Jepang. ”Jadi, pas 10 November itu kami masih diberedel Jepang. Baru tahun 1949 terbit lagi,” imbuhnya. Andi jua menerangkan pesan-pesan pemompa semangat yg ditulis pribadi sang Soekarno dalam 1953. ”Beliau mendoakan supaya Panjebar Semangat lestari & permanen menyertai

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Agan Rudy
baru saja membeli Akun Twitter Lawas 1 hour ago   Completed by Toko Anda