Menumbuhkan Pahlawan-pahlawan Orisinal Masa Kini

 A. Refleksi Dari Pahlawan Terdahulu

1. Pahlawan Menurut KBBI, pahlwan mempunyai arti orang yg menonjol lantaran keberanian & pengorbanannya pada membela kebenaran; pejuang yg gagah berani; hero. Dari definisi pahlawan tadi terdapat 3 istilah kunci, yaitu keberanian, pengorbanan & kebenaran. Sementara dari penulis, pahlawan nasional merupakan mereka yg semasa hidupnya berjuang & berkorban menggunakan berani demi kemajuan bangsa Indonesia baik sebelum kemerdekaan juga sehabis kemerdekaan.

 Pahlawan itu berani, rela berkorban & berjuang demi kebenaran Sehingga bisa penulis simpulkan bahwa keberanian merupakan karakter yg wajib dimiliki seseorang pahlawan, pengorbanan merupakan keniscayaan yg wajib dilakukan seseorang pahlawan & kemajuan bangsa merupakan kebenaran yg wajib diupayakan sang seseorang pahlawan.

 2. Belajar menurut Tokoh Pahlawan Tokoh pahlawan Indonesia dahulu merupakan individu yg berperan pada upaya pembebasan Indonesia menurut belenggu penjajahan. Pahlawan terdahulu berjuang menggunakan banyak sekali kemampuan spesifiknya, melalui politik, pendidikan, angkat senjata sampai kegiatan keagamaan. Mereka merupakan pahlawan-pahlawan, yg meskipun dalam masa eksklusif belum saling menyatu-padu, namun sama-sama memperjuangkan kemerdekaan menurut belenggu kolonialisme. Kita warga kini wajib sanggup memetik nilai menurut usaha pahlawan terdahulu.  Mereka nir saling kenal & bahkan masih tercerai-berai pada wilayahnya masing-masing, namun mempunyai semacam "rasa yg sama", yaitu harapan akan kebebasan. 

Tidak hanya mempunyai rasa yg sama, mereka jua mempunyai daya juang yg sama buat mewujudkan kebebasan (kemerdekaan) itu melalui banyak sekali instrumen usaha. Rasa mempunyai bangsa Indonesia wajib tumbuh dalam setiap individu pada warga Nilai inilah yg penulis rasa perlu kita adopsi menurut tokoh pahlawan pada masa lampau. Rasa mempunyai akan bangsa ini wajib tertanam didalam benak setiap kita. Begitu jua menggunakan daya juang buat terus memelihara & memajukan Indonesia.

 3. Pahlawan "pegang senjata" & Pahlawan "dibalik meja" Kalau penulis boleh beropini (menjadi seseorang pembelajar), tipe pahlawan Indonesia terdapat 2, yaitu pahlawan pegang senjata & pahlawan dibalik meja. Pahlawan pegang senjata yg relatif termasyur mungkin merupakan Jenderal Soedirman & Pangeran Diponegoro. Kedua tokoh pahlawan ini dikenal lantaran perjuangannya melawan penjajahan melalui kekuatan militer. Pahlawan pegang senjata ini bukanlah tentara yg terlatih & memakai senjata terkini misalnya dalam pihak kolonial.

 Sudah melegenda, usaha pahlawan pegang senjata hanya memakai alat/senjata apa adanya, misalnya bambu runcing atau senjata-senjata tradisional misalnya keris & golok. Di beberapa wilayah terdapat jua perlawanan memakai senjata sumpit, misalnya pada Kalimantan. Pahlawan tipe ke 2 merupakan pahlawan dibalik meja. Mereka ini pejuang yg mungkin nir pertikaian eksklusif menggunakan pihak penjajah. Mereka merupakan pejuang yg berkiprah melalui banyak sekali bidang non-militer, misalnya politik, keagamaan sampai pendidikan.

 Di awal abad ke-20 poly tumbuh pahlawan-pahlawan tipe ini. Mereka poly melakukan perlawanan intelektual & mampu mengintegrasikan perlawanan diberbagai wilayah. Beberapa orang menurut sekian poly pahlawan tipe ini yg menonjol merupakan Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Sjahrir, Tan Malaka, Tjokroaminoto. Tentu selain pahlawan tadi, terdapat sangat poly pahlawan lain yg sebagai pelopor diberbagai komunitas & organisasi. Seperti Samanhudi & sahabat-sahabat menjadi pendiri Sarekat Dagang Islam yg lalu berkembang sebagai Sarekat Islam. Kemudian para pelajar STOVIA mendirikan Budi Utomo yg diketuai sang Dr. Soetomo. 

Tentu mereka ini jua adalah pahlawan dibalik meja. Dan masih poly lagi. Baik pahlawan pegang senjata juga pahlawan dibalik meja, keduanya sama-sama berjuang diatas bukti diri diri yg bertenaga. Mereka merupakan pahlawan asli Bagi penulis, yg menarik merupakan ke 2-2 tipe pahlawan tadi mempunyai kecenderungan yg relatif krusial bagi kemerdekaan Indonesia & jua masih sangat relevan diterapkan pada masa sekarang . Mereka seluruh sama-sama berjuang menggunakan bukti diri diri yg bertenaga. Mereka merupakan pejuang asli yg mengupayakan kemerdekaan tanahnya sendiri menggunakan kekuatan budaya & asal daya manusianya sendiri. Tidak ingin menggantungkan usaha dalam kekuatan lain menurut negara & budaya lain. Lihat saja menurut penggunaan senjata para pahlawan angkat senjata. Mereka menggunakan penuh percaya diri & keberanian mengusir serdadu colonial hanya menggunakan sebatang bamboo yg ujungnya dilancipi. Paling keren antara lain barangkali hanya pejuang membawa senapan, itupun output curian menurut tentara lawan. Para perumus Pancasila pun menyusun menggunakan sangat teliti & lebih jelasnya dari aspek sosio-kultural bangsa ini, nir terpengaruh kekuatan kolonial yg waktu itu masih bercokol. 

Nilai Ketuhanan pun dimasukkan pada penyelenggaraan negara lantaran melihat bahwa "Tuhan sudah menyejarah" dalam bangsa ini selama berabad-abad (Yudi Latief, 2011). Kedua tipe pahlawan berjuang menggunakan bukti diri kebangsaan yg bertenaga Artinya menurut model ini, bahwa pahlawan terdahulu merupakan pahlawan yg asli. Entah itu berada dilapangan pertempuran atau dibalik meja, keduanya berjuang menggunakan bukti diri kebangsaan yg bertenaga. Berani berjuang & tumbuh menurut akar bangsanya sendiri. Mereka merupakan pahlawan asli.

 B. PENDIDIKAN SEBAGAI SARANA MENUMBUHKAN PAHLAWAN ORISINAL

1. Tentang anak yg "hilang bukti diri dirinya" Ada sebuah meme yg pernah penulis lihat, menampilkan perbandingan antara pemuda jaman dulu (masa kolonial) menggunakan pemuda jaman kini . Menggelikan, terlihat dalam gambar pemuda jaman dulu merupakan pejuang angkat senjata yg mati-matian mengusir penjajah & mengibarkan bendera merah putih. Sedangkan pemuda jaman kini sibuk bergoyang didepan kamera smartphone, entah itu selfie ataupun tiktokan.

 Sumber : www.wowkeren.com || Ilustrasi pemuda jaman dulu & pemuda jaman kini Bagi penulis yg termasuk generasi z, hal ini merupakan menggelikan sekaligus ironis. Perkembangan jaman tentu tidak sanggup dihindari. Tapi bila generasi belia kehilangan bukti diri kebangsaannya, tentu orang umum pun memahami bahwa ini masalah. Mari sedikit menyinggung soal demam Korea. Bagaimana kebudayaan asing ini demikian bertenaga bercokol dalam diri poly anak-anak belia Indonesia. Bahkan hingga Ibu-Ibu pun terpengaruh ! 

Sumber : www.idntimes.com || Ilustrasi boy band korea menjadi budaya populer Satu sisi kita perlu belajar menurut Korea Selatan pada hal industrialisasi kebudayaan. Korsel berhasil pada melakukan perluasan budayanya ke negara-negara lain sebagai akibatnya budayanya sebagai mendunia. Pemerintah Korsel mengupayakan industrialisasi kebudayaan menggunakan sangat serius, melalui taktik Hallyu (Tim Kreatif LKM UNJ, 2017).

 Sumber : pixabay.com || Ilustrasi huruf & sandang orisinil Korea Selatan Kita sanggup belajar poly menurut Korea Selatan melalui keberhasilan industrialisasi budayanya & sistem pendidikannya. Tapi, jangan hanya berhenti belajar menurut Korsel & mengaguminya! Kita bangsa Indonesia jua wajib bangkit, bagaimana budaya Indonesia bisa sebagai sentra perhatian dunia. Dan kita wajib bangga akan budaya kita itu ! Kebanyakan pelajar kita mengalami krisis bukti diri, tergerus sang budaya asing Mari lihat pelajar-pelajar kini .

 Tidak hiperbola bukan apajika penulis bilang jika mereka merupakan anak-anak yg potensial kehilangan bukti diri kebangsaannya ? Bahkan kekaguman mereka akan tokoh-tokoh pahlawan masa lampau atau tokoh-tokoh Indonesia masa sekarang telah tergantikan menggunakan figur-figur lain menurut luar, yg tentu mempunyai akar budaya yg berbeda. Contoh ini  memberitahuakn anak-anak bunda pertiwi yg sedang hilang bukti diri dirinya.  Lalu apa yg sanggup kita perbuat menjadi warga Indonesia ? Satu hal yg sanggup sebagai keliru satu solusi bagi tumbuhnya bukti diri kebangsaan yg bertenaga dalam anak-anak merupakan pendidikan. 

2. Pendidikan lokalitas pada menumbuhkan pahlawan asli masa sekarang Pahlawan asli adalah pahlawan yg berjuang menciptakan bangsanya sendiri, menggunakan tabiat & kepribadian orisinil. Manusia asli Indonesia bukan hanya orang yg terlahir secara fisik pada Indonesia. Manusia asli Indonesia merupakan sosok ideal yg wajib diperjuangkan menurut hari ke hari, menjadi upaya bahu-membahu semua warga , bukan hanya penyelenggara negara. Pendidikan pada hal ini dari penulis berperan krusial. Terutama pada upaya penguatan tabiat orisinil bangsa berbasiskan budaya lokal. Penulis mengapresiasi rumusan-rumusan pendidikan yg telah memuat unsur lokalitas Indonesia. Tetapi hendaknya hal itu nir anggun diatas kertas saja. Melainkan wajib sahih-sahih diaplikasikan pada keseharian pada sekolah. Sekolah (taraf menengah atas) contohnya sanggup menerapkan semacam tes tengah semester yg mewajibkan anak-anak buat meneliti dilema riil pada lingkungan terdekatnya (per-tengah semester). Penelitian ini wajib dilakukan secara berkelompok.

 Kemudian setiap gerombolan menciptakan proposal yg diajukan pada sekolah/pengampu/pengajar yg memuat solusi buat perseteruan sosial tadi. Tentu solusi tadi wajib memuat kompetensi dasar yg dimiliki sang anak tadi. Disinilah letak pendidik menjadi fasilitator & pendamping. Ambil model murid Sekolah Menengah Atas IPA menganalisis adanya dilema didaerahnya berupa rusaknya tanah dampak penggunaan pupuk kimia hiperbola sang petani. Kemudian gerombolan murid tadi mempunyai solusi buat mengadakan pengenalan sekaligus praktek lapangan pada para petani tentang pembuatan pupuk organik ramah lingkungan menurut bahan sampah kuliner pada Desa & Pasar Tradisional terdekat.  Tentu, pembuatan pupuk organik tadi jua output menurut pengetahuan & pembelajaran murid Sekolah Menengah Atas IPA tadi pada sekolah. 

Jadi poinnya, anak-anak nir hanya belajar buat ilmu (pengetahuan), namun terlebih belajar buat peduli dalam sekitar. Sehingga orientasinya merupakan perubahan sosial, bukan semata-mata hanya prestasi akademik. Bagi murid Sekolah Menengah Atas IPS contohnya berupaya ikut ambil bagian pada penyampaian aspirasi penggunaan dana desa atau mungkin sebagai pelopor pemberdayaan masyarakat pengangguran melalui Koperasi Unit Desa. Tentu, unsur-unsur karakter bangsa misalnya musyawarah, ikut merasakan & gotong-royong akan secara sedikit demi sedikit tumbuh melalui aktivitas pembelajaran riil semacam itu. Mungkin hal-hal berbau "terjun eksklusif pada warga " menggunakan berlandaskan lokalitas warga tadi wajib digenjot pada para pelajar. Hal ini guna menumbuhkan kecintaan pelajar dalam lokalitas bangsa. Menyukai budaya luar misalnya K-POP tentu boleh boleh saja. 

Tapi jangan lupa, terdapat yg wajib kita bangun pada negara Indonesia ini. Ini amanat agung para pahlawan terdahulu pada setiap Warga Negara Indonesia. Kurikulum pendidikan formal wajib menggenjot pelajar buat terjun pada warga secara riil & sistematis Demikianlah, bagi penulis pentingnya kurikulum pendidikan formal secara riil wajib menggenjot pelajar buat terjun pada warga & berupaya mengangkat estetika lokalitas bangsa Indonesia. 

C. REFLEKSI Peringatan Hari Pahlawan tahun ini hendaknya nir sebagai perayaan belaka yg poly diperingati sang sekolah-sekolah pada penjuru negeri. Hari Pahlawan wajib sebagai titik pulang bahwa pada masa sekarang , Indonesia butuh eksklusif-eksklusif yg sanggup berdiri diatas dasar budaya bangsanya sendiri. Perkembangan jaman wajib dihadapi, akan tetapi jati diri bangsa nir boleh luntur. Identitas yg bertenaga akan sebagai pondasi kokoh untuk menghadapi perkembangan jaman. Bagi penulis, tumbuhnya pahlawan-pahlawan asli misalnya ini wajib diupayakan melalui pendidikan yg tepat. Pendidikan yg berorientasi pasar boleh-boleh saja.

Lulusan sekolah/perguruan tinggi wajib related menggunakan permintaan pasar absah-absah saja. Tapi bila dalam suatu titik itu antagonis menggunakan akar budaya bangsa, maka perlu dikritisi. Kita perlu refleksi, apakah pendidikan berbasis budaya bangsa masih diterapkan secara riil atau nir. Atau hanya berada diatas kertas saja ? Mudah-mudahan refleksi Hari Pahlawan ini sanggup menyentuh pembaca, supaya bisa ikut ambil bagian pada upaya menciptakan asal daya insan yg kelak akan sebagai pahlawan-pahlawan bangsa yg asli melalui pendidikan. Tentu pendidikan amat luas, nir melulu dalam lingkup sekolah atau kampus. Pembaca sanggup ikut ambil bagian menggunakan banyak sekali cara & spesialisasi pekerjaan. Selamat berjuang !

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Agan Rudy
baru saja membeli Akun Twitter Lawas 1 hour ago   Completed by Toko Anda