Elegi sekeping pagi

Suatu pagi dalam tahun 1967. KAMU memahami bagaimana cita cita cita cita cita rasanya tidur menggunakan ketakutan bahwa saat terlelap, kepalamu mungkin akan terpenggal? Aliong mengetahuinya menggunakan niscaya. Beberapa hari ini tidurnya nir tenang. Tetapi malam itu lain, beliau terjaga hingga pagi tiba. Sampai kicauan burung mulai terdengar & tumisan son mi berdasarkan istrinya mulai menguar memasuki hidungnya. 

Dengan perasaan melayang lantaran kekurangan tidur, Aliong berkecimpung berdasarkan kasurnya yg berderit malas & berjalan menuju dapur mini mereka. ”Met ma ai nyi? (Masak apa engkau ?)” tanya Aliong pada Amoy, istrinya yg sedang menumis sesuatu. Yang ditanya tidak eksklusif menjawab. Ia melirik Aliong menggunakan lelah, ”chau fon (nasi goreng).” 

Aliong berjalan sementara waktu ke pintu belakang, loka beliau menyimpan alat-alat bertukangnya. Lantai kayu tempat tinggal mereka berderit-derit ketika beliau melangkah masuk menggunakan palu pada tangannya. Butuh beberapa saat bagi Amoy buat sadar bahwa Aliong tengah membuka paku yg menancap pada fondasi shin than. Melihat hal itu Amoy berteriak, meninggalkan kompornya & berjalan ke arah Aliong. ”Met ma ay nyi, Liong? (Kamu ngapain, Liong?)” 

”Lia tung si ta ha met sika si, Moy. (Barang ini sanggup menciptakan kita mati, Moy.)” Amoy mulai menangis sembari berusaha merebut palu berdasarkan tangan Aliong. Diam-diam, bawang putih yg sedang beliau masak berdasarkan tersebut sudah menghitam & mengeluarkan bau tidak sedap. * Setiap benda mati, selaiknya benda hayati, memiliki sejarahnya sendiri. Itulah yg diajarkan mak Amoy padanya. Begitu jua menggunakan shin than yg berada pada tempat tinggal mini mereka. Sebulan sehabis Amoy mengalami keguguran anak pertamanya, ke 2 orang tua Amoy dan ketiga kokonya tiba menghampiri kediaman mereka sembari membawa sesuatu pada bungkusan koran. 

”Ngai ten ti nyi sin kon an kiuk. Sika thai lia ting su pun nyi lau Aliong. (Kami memahami perasaanmu sedang murung . Makanya kami bawa ini buat engkau & Aliong.)” Ketika bungkusan koran itu dibuka barulah Amoy sadar bahwa famili membawa shin than untuknya. Bilah papan bercat merah itu terdiam sesaat sembari famili mereka menyantap makanan ringan yg disediakan suami istri belia itu, ad interim mereka seluruh menunggu loya tiba buat ”membersihkan” tempat tinggal mereka & melakukan upacara sebelum shin than itu sanggup mereka pasang. Rumah itu belum usang mereka tempati lantaran mereka wajib mengungsi beberapa saat kemudian. 

Amoy sebenarnya merasa murung lantaran wajib meninggalkan tempat tinggal lamanya, terlebih pada tempat tinggal inilah beliau mengalami pendarahan & dukun beranak wajib menguret dirinya. Merampas butir cintanya bahkan sebelum sempat beliau petik. Setelah upacara terselesaikan & surya berusaha balik ke peraduannya, Amoy terpaku menatap shin than yg telah terpasang pada rumahnya menggunakan jemawa. Amoy meletakkan hio & menaruh persembahan ke sana. Sembari berdoa pada Thi Kong supaya kebahagiaan kiranya balik diberikan pada famili mini mereka. Malam itu Aliong & Amoy balik melakukan interaksi badan. Tiga minggu setelahnya, rahim Amoy balik diberkati sang Thi Kong. 

* Salah satu fondasi shin than itu mulai goyah, tetapi masih relatif bertenaga menunda beban persembahan pada atasnya supaya nir jatuh. Tidak misalnya air mata pada pipi Amoy yg mulai terjatuh ringkih. ”Emo a’ Liong, mo met fai ka shin than a’ (Jangan Liong, jangan dirusak shin than-nya),” isak Amoy sembari berusaha melepaskan palu berdasarkan tangan Aliong. ”Eng hiao ya, Moy. Ta ha kim chat bei loi met sika si a’. Nyi mo khon ma ngai lo thai si mang con? (Tidak sanggup, Moy. 

Nanti tentara itu bakal tiba membunuh kita. Kamu nir lihat saudara termuda saya belum pergi?)” Aliong menyentak tangannya keras. Membuat Amoy jatuh terduduk. Melihat hal tadi Aliong eksklusif menggunakan sigap memegang ketua & perut Amoy. Tempat anaknya yg belum jua mencicipi hayati tengah bersemayam, ”Nyi em pha ma? (Kamu nir apa-apa?)” Amoy hanya menjawab menggunakan isakan, ”Ngai an kiang a, Liong (Aku takut, Liong),” ungkapnya putus asa, ”sika mo met ma ai tungsi ce mai gi ten an boi bui si? (kita nir melakukan apa-apa, akan tetapi kenapa mereka membenci kita?” Lelaki itu hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan retoris istrinya. Diletakkan palunya sejenak. Ia merengkuh istrinya yg tengah menangis sembari tersedu-sedu pada bawah shin than. 

Aliong menenangkan terus istrinya hingga asap keluar berdasarkan penggorengan istrinya yg sedari tersebut belum Amoy matikan. Tersadar akan hal itu Aliong bangun menggunakan sigap buat mematikan api. Cukup shin than-nya yg kau lenyapkan, Aliong, pikirnya pada hati. Jangan lantas tempat tinggal ini malah jadi terbakar. Pada suatu saat yg kelabu, Athung, adiknya, menyampaikan padanya, ”Liong Ko, ngai oi cew then siu gi ten perbatasan Serawak kai. (Bang Liong, aku mau pulang bantu mereka pada perbatasan Serawak sana.)” 

Aliong hanya menghela napas. Adiknya lahir sempurna dalam ketika kemerdekaan Indonesia. Dalam benaknya mungkin itulah yg mengakibatkan Athung sangat berjiwa nasionalis. Ia teringat ketika siaran radio menggunakan rekaman bunyi Presiden Soekarno terdengar membacakan proklamasi, jerit tangis saudara termuda satu-satunya itu pecah membahana mengalahkan bunyi Pak Soekarno. Sudah berkali-kali Athung ingin mendaftar sebagai tentara Indonesia, tetapi mata sipitnya menghalangi jalannya. 

Maka saat rekan-rekan main Athung yg sesama bermata sipit tergerak buat membela Indonesia pada grup yg mereka sebut Paraku, Athung pamit. Dengan berat Aliong melepas adiknya buat pulang sebagai relawan menjaga perbatasan Indonesia supaya nir dikuasai neokolonialisme Inggris pada Negara Malaysia. Athung bahkan belum berumur 18 tahun kala itu. Entah apa yg akan dikatakan orang tuanya pada nirwana kelak melihat kebodohan Aliong melepas Athung pulang. Masalahnya merupakan telah 5 tahun Athung pulang & belum jua balik . Dua tahun sebelumnya para keturunan Tionghoa pada Pulau Jawa mulai dibantai atas tuduhan komunis.

Aliong & Amoy pun mengungsi semakin masuk ke pada hutan pada Singkawang. Mungkin itu jugalah yg menciptakan Amoy mengalami keguguran. Walau sejujurnya Aliong sangat takut memiliki anak pada masa kini . Mengingat para keturunan bermata sipit tampaknya nir akan memiliki masa depan pada negeri ini. Setelah menetap selama hampir 2 tahun pada rumahnya kini , Aliong menerima setitik titik cerah pada kehidupannya. Ia & Amoy mulai sanggup bercocok tanam dan berkebun. Bahkan kini Amoy tengah mengandung anaknya sehabis mengalami keguguran sebelumnya. 

Seminggu kemudian galat satu relawan yg pulang beserta Athung datang-datang tiba. Ia kabur lantaran anggota Paraku mulai difitnah sang tentara Indonesia. Ia pun mengabarkan bahwa Athung sudah terbunuh sang tentara lantaran beliau dituduh berkhianat & kini mereka tengah mencari famili Athung. Aliong tidak habis pikir mengapa adiknya yg mengorbankan masa mudanya buat membantu tentara malah terbunuh sang mereka. Aliong nir paham, yg Aliong pahami merupakan beliau wajib menjaga Amoy & anak mereka yg belum lahir. Ia bahkan nir memberi memahami Amoy soal liputan ini. Ia takut jika-jika kekhawatiran ini akan menciptakan kandungan Amoy semakin melemah. Walaupun beliau nir memahami hingga kapan beliau bisa menyembunyikan ini berdasarkan istrinya. 

* Di meja makan, Aliong akhirnya menceritakan tentang kematian Athung. ”Nyi phien ngai ma? (Kamu bohong?)” ”Ce mai ngai phien nyi na, Moy? Ngai lo thai si het lia. Asa sika han jiu kei shin than, ke kim chat bei khon sika, Moy. Sika thong nyin si eng hiao met ma ai tung si bo. (Untuk apa saya berbohong, Moy? Adikku telah mati. Kalau kita masih punya shin than itu para tentara sanggup lihat. Kita orang Tionghoa nir punya poly pilihan soal itu.)” ”Asa nyi met fai ke shin than, thi kong bei at, Liong. Sika nak si bei si. (Kalau engkau rusak shin than itu, tuhan akan marah, Liong. 

Anak kita sanggup tewas lagi.)” ”Asa ke shin than han kia bui, sika bei si a, Moy. Sika! Nye nak si eng hiao chut se’a (Kalau shin than itu masih pada sana, kita yg akan mati, Moy. Kita! Anak engkau bahkan nir sanggup dilahirkan),” nir terdapat kemarahan pada nada bicara Aliong ketika mengungkapkan ini. Hanya keputusasaan yg beresonansi pada dalamnya. Nasi dingin yg berada pada tengah mereka tampak mulai mengeras. Amoy & Aliong hanya bisa terdiam menggunakan pikiran masing-masing. Shin than pada belakang mereka seakan lancang menertawai perdebatan mereka, padahal nasibnyalah yg sedang dipertaruhkan. 

”Ngai hi Athung phen jiu kai ngai oi mun gi, ta ha ngai con sika hi nyi apak kai, nyi hiau chut se ka bui (Aku pulang ke tempat tinggal sahabat Athung sementara waktu buat menanyakan sesuatu, pulangnya nanti engkau saya antar ke tempat tinggal orang tuamu dulu buat mengungsi hingga anak kita lahir),” ujar Aliong memecah keheningan. ”Ho, cuma mo met fai ke shin than, Liong. Ngai han oi piong hio. Jit pien, Liong, jit pien ti’a (Baiklah, akan tetapi jangan rusak dulu shin than-nya, Liong. Aku ingin memberikan dupa pada sana. Sekali saja, Liong, sekali saja),” pinta Amoy menggunakan sangat. Aliong berjalan ke arah istrinya & memeluknya yg tengah duduk pada bangku ruang makan, ”ho (baiklah),” ungkapnya tenang. 

Untuk sesaat Amoy mencicipi kedamaian merasuk ke pada tubuhnya. Sejenak beliau berharap saat bisa berhenti supaya hanya perasaan ini yg beliau jangan lupa pada hidupnya. ”Nyi mang sit fon’s, Liong. Ngai chien chun pun nyi’a? (Kamu belum makan kan, Liong. Aku gorengkan telur ya?)” Aliong mengangguk. Kemudian berkecimpung pulang diikuti sang Amoy pada belakangnya, ”ngai eng kiu ha. (aku pulang nir usang .)” ”Ho ho’a (Hati-hati),” jawab Amoy tanpa bisa menyembunyikan kecemasan pada suaranya. ”Ingat apabila terdapat yg ke sini, siapa engkau punya nama?” tanya Aliong perlahan sembari menatap masa Amoy lekat-lekat. 

”Wati, nama saya Wati.” ”Dan suamimu?” ”Suami aku punya nama Joko.” Dengan begitu Wati melihat suaminya pulang. Ia terus berada pada pintu sembari melihat punggung Joko yg menjauh. Ketika Wati akhirnya menutup pintu, Joko membalikkan badannya, tetapi hanya pintu tertutup yg beliau lihat. Diam-diam, Wati seharusnya tersadar beliau lebih tekun pada harapnya buat menghentikan saat sejenak ketika suaminya memeluknya tersebut. Dengan begitu, tangan-tangan takdir mungkin nir akan sedemikian kejam memainkan perannya. 

* Wati terus memasak. Tangannya menggoreng telur & membaliknya menggunakan cepat. Ia memahami Joko niscaya lapar & masakannya wajib telah siap sebelum suaminya pergi ke tempat tinggal . Ia memberikan telurnya ke pada piring ketika beliau mendengar bunyi angin berdesing masuk ke pada dapurnya. Dipandanginya dinding kayu pada rumahnya menggunakan perasaan nir nyaman. Seekor kupu-kupu tampak terbang masuk melalui ventilasi dapur & hinggap pada kusennya. Ia berkecimpung ke arah shin than & mulai membakar hio. 

Tetapi entah mengapa 3 gelas yg biasa beliau isi minuman beralkohol pada dalamnya mulai berubah posisinya. Tangan Wati berusaha terjulur merogoh abu bekas hio ketika beliau mencicipi sakit pada perutnya & darah mulai mengalir pada antara kakinya. Ia pun terjatuh menggunakan pelan. Wati berusaha nir panik, walaupun beliau memahami bayinya nir baik-baik saja. Ia memanggil nama suaminya perlahan. Ia mulai mencium bau amis darah. Ketika bunyi erangannya mulai terdengar tanpa terkontrol, pada keputusasaan beliau balik memanggil nama suaminya.

 ”Aliong…” Joko terus berjalan. Kakinya melangkah ringan sembari sekali waktu menendang kerikil. Ia memahami perutnya lapar & beliau tidak tabah buat memakan sarapannya yg sedang dimasak sang Wati. Ia menatap hutan pada sekelilingnya menggunakan akurat ketika beliau mendengar bunyi angin berdesing pada antara pepohonan. Dipandanginya hutan kayu pada sekelilingnya menggunakan perasaan nir nyaman. Seekor kupu-kupu tampak terbang keluar berdasarkan pada hutan tadi & hinggap pada kakinya.

Ia berkecimpung terus buat segera hingga pada jalan besar. Tetapi entah mengapa terdapat 3 bercak darah pada jalan yg beliau lalui. Ia pun menghampirinya & berlutut. Tangan Joko berusaha terjulur mengecek bekas darah ketika beliau mencicipi pukulan pada kepalanya & darah mulai mengalir pada pipinya. Ia pun terjatuh menggunakan keras. Joko berusaha nir panik, walaupun beliau memahami terdapat orang lain pada belakangnya. Ia memanggil nama istrinya perlahan. Ia mulai mencium bau amis darah & bunyi pria pada belakangnya mulai berteriak sembari terbahak. Dalam keputusasaan Joko balik memanggil nama istrinya. 

”Amoy…” Diam-diam, sepasang kupu-kupu terbang & hinggap pada shin than. (*) — *) AWI CHIN, Penulis & novelis menggunakan karya debut Yang Tak Kunjung Usai

Post a Comment

أحدث أقدم